DalamIslam sendiri sebetulnya sudah ada beberapa cara untuk mendapatkan jodoh atau menjemput jodoh seperti langkah berikut ini: Memantaskan Diri. Sebelum jodoh itu tiba alangkah baiknya jika anda memantaskan diri dengan memperbaiki diri dan lebih meningkatkan ketakwaan terhadap tuhan yang maha esa. Introspeksi diri dan meningkatkan kepercayaan
MemantaskanDiri dan Menjemput Jodoh. Memantaskan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT terbuka lebar bagi siapa saja yang menghendakinya. Proses memantaskan diri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu terdapat hal-hal yang harus diperjuangkan dan butuh waktu dalam mengambil keputusan.
Sebagaicontoh dan referensi, berikut ini telah kami paparkan beberapa quotes islami tentang jodoh dan ulasan singkatnya. Semoga saja ada kutipan yang mewakili perasaanmu. Selamat membaca! 1. Fokus Memantaskan Diri. Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu.
Tipsmemantaskan diri . 1. Belajar taat pada syariat Islam. Belajarlah taat pada syariat Islam. Sebab ketaatan kepada Allah adalah telah
Seorang mahasiswa Universitas Islam Riau ( UIR) berinisial JP (25) ditemukan gantung diri dalam kamar mandi di kamar kosnya di Pekanbaru, Jumat, 5 Agustus 2022 sekitar pukul 21.30 WIB. Penemuan jasad pria gantung diri dalam kos-kosan ini membuat geger warga di Kelurahan Air Dingin. Kanit Reskrim Polsek Bukit Raya Pekanbaru, Iptu
Untukdapat memantaskan diri, berikut ini ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan. 1. Awali dengan mencintai diri sendiri lebih dari siapa pun. Ketika kamu ingin memantaskan diri untuk pasangan hidupmu nanti, maka pertama yang harus kamu lakukan adalah mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Mencintai diri sendiri berarti kamu bisa menerima
mILS. Tanya Ana mau bertanya tentang memantaskan diri, jodoh itu kan di tangan Allah, segala sesuatu tentang jodoh diatur oleh Allah kita sebagai muslimah hanya bisa memantaskan diri, bagaimana sih cara yang tepat untuk memantaskan diri? Ana sdh memutuskan utk tidak pacaran, tidak dekat dengan lawan jenis. Namun ada seorang teman yang berkata, “Masa’ iya kalau kita hanya diam begitu saja jodoh kita akan datang kerumah mengetuk pintu?” Lalu kita sebagai wanita harus bagaimana dan seperti apa dalam penantian? Terimakasih. via emailJawabalaikumussalam wrwb. Terima kasih sudah berkirim email kepada kami. Mbak Iin, betul bahwa jodoh itu di tangan Allah Ta’ala. Kita hanya bisa berusaha. Sama seperti rizki dan kematian, jodoh adalah masalah ghaib. Allah Ta’ala yang mengatur dan menentukan. Namun demikian, sama seperti rizki dan kematian, kita bisa mengusahakan semaksimal kita bisa untuk mendapatkan rizki dan menghindari segala bentuk yang umumnya bisa mengantarkan kepada kematian. Ini persoalan keyakinan kita kepada takdir Allah Ta’ diri itu memang perlu. Sama seperti ketika kita di sekolah. Jika kita sudah bersiap menghadapi ujian sekolah dengan belajar semaksimal kita bisa, insya Allah kita akan mendapatkan hasil sesuai dengan kepantasan yang sesuai. Orang yang tak siap menghadapi ujian karena ia justru malah santai saja, maka hasil yang ia dapatkan juga tak sebagus yang didapat orang lain. Ini soal kepantasan. Jika jodoh tak kunjung datang, tetaplah bersabar. Ada baiknya interospeksi diri, apa yang kurang dalam diri. Mungkin kurang bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala, mungkin juga kurang sabar, mungkin juga kurang beramal shalih, mungkin juga kurang taat melaksanakan kewajiban, dan “mungkin-mungkin” lainnya yang bisa dievaluasi secara jika ingin mendapatkan jodoh—apalagi jodoh yang baik, kita juga harus berusaha menjadi baik. Firman Allah Ta’ala yang artinya “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” QS an-Nuur [24] 26Jodoh memang harus dicari, tetapi pastikan cara mencarinya sesuai tuntunan ajaran Islam. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai ada yang mudah mendapatkan jodoh, tetapi caranya salah misalnya melalui pelet, guna-guna, sihir. Sebagai muslim kita terlarang melakukan perbuat syirik tersebut. Cobalah Mbak Iin memperluas pergaulan. Misalnya mulai aktif ikut kajian keislaman di masjid atau mejelis taklim, niatnya tentu untuk mencari ilmu. Kadang, jodoh datang bukan dari pertemuan langsung dengan orangnya, tetapi juga melalui orang lain yang mempertemukan dengan jodoh kita. Maka, jika kemudian ada efek samping’ berupa tawaran jodoh, itu bonus’ dari niat ikhlas Mbak Iin dalam mencari ilmu di tempat tersebut. Seringnya kita bertemu dengan orang lain, apalagi yang baik-baik shalih/shalihah, maka peluang untuk mendapatkan jodoh kian terbuka lebar. Tetapi, pastikan tidak ada interaksi yang diharamkan ketika terjadi pertemuan hindari kriteria untuk mendapatkan jodoh dengan kriteria yang muluk atau tinggi. Janganlah mengharapkan kesempurnaan dari orang lain, sementara diri kita masih jauh dari disebut baik. Kadang, ini yang mungkin menjadi penghambat mendapatkan yang perlu Mbak Iin lakukan tawakal, tetap berusaha semaksimal bisa dilakukan, dan barengi dengan doa serta memantaskan perilaku agar sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Semoga Allah Ta’ala memudahkan jodoh Mbak Iin. [Tim Konseling, MuslimahWebID] *Sumber gambar klik di sini
Oleh Syifa Nur Azizah STEI SEBI [email protected] PADA dasarnya, seorang muslim sejati pastilah mampu memahami bagaimana cara memanajemen diri. Namun, melihat kondisi saat ini ternyata masih banyak umat muslim yang gagal dalam memanajemen dirinya. Hal ini bisa dilatarbelakangi oleh ketidaktauan bagaimana cara memanajemen diri ataupun karena keterlenaan akan hal-hal yang sifatnya menjerumuskan. Maka dari itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara memanajemen diri kita agar apa yang kita lakukan senantiasa bermanfaat baik bagi kita maupun orang lain. Menurut KBBI, Manajemen berarti “Pengunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran”. Dari definisi tersebut,dapat diartikan bahwa manajemen diri adalah “penggunaan segala kemampuan yang ada dalam diri agar senantiasa menjadi oroduktif dan tidak terbuang sia-sia”. Ruang lingkup manajemen diri bagi seorang muslim dapat digolongkan menjadi 4 yakni Manajemen penampilan diri, Manajemen emosi, tutur kata dan tingkah laku, Manajemen interaksi dengan orang lain dan terakhir Manajemen Waktu. Berikut beberapa hadist yang menerangkan tentang ke-empat bagian manajemen tersebut. 1 Manajemen penampilan diri “Sesungguhnya allah itu indah dan senang dengan keindahan. Bila seseorang diantara kamu bermaksud menemui kawan-kawannya, hendaklah dia merapikan dirinya.” Muslim. 2 Manajemen emosi,tutur kata dan tingkah laku “Seseorang baru benar-benar dikatakan muslim adalah manakala muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya. “HR Bukhari-Muslim 3 Manajemen interaksi dengan orang lain “Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam apabila engkau bertemu dengannnya ucapkanlah salam, apabila dia mengundangmu maka hadirilah, apabila dia meminta nasehatmu maka nasihatilah dia, apabila dia bersin maka do’akanlah dia, apabila dia sakit maka tengoklah, apabila dia meninggal maka antarkanlah.” HR Muslim 4 Manajemen waktu Hadist dari Mu’adz bin jabal sesungguhnya Nabi SAW bersabda ’’Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ditanya tentang 4perkara; Tentang umurnya dimana ia habiskan, Tentang waktu mudanya dimana ia habiskan, Tentang harta bendanya dari mana dan kemana ia belanjakan, dan Tentang ilmunya apa yang telah ia kerjakan.” HR Al-bazzar dan at-Thabrani dengan sanad shahih. Dari beberapa ulasan tersebut, maka sudah seharusnya kita memahami pentingnya manajemen diri bagi kita. Terlebih manajemen waktu, karena sejatinya ketika waktu berlalu demikian cepat, sedangkan segala yang berlalu tak akan kembali lagi maka sang waktu demikian berharga. Sebagaimana pepatah mengatakan “Saat hidup dibatasi oleh siang, saat istirahat dipagari oleh malam, saat muda akan bertemu dengan masa tua, dan pasti saat hidup akan berujung kematian. Maka sungguh waktu bagi satu-satunya pertaruhan, Waktu adalah kehidupan”. Wallahu alam Bishowab. [] Kirim OPINI Anda lewat imel ke [email protected], paling banyak dua 2 halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi di luar tanggung jawab redaksi.
WAHAI Muslimah, pernahkah kamu mendengar istilah memantaskan diri agar jodoh mendekat? memantaskan diri agar mendapat jodoh terbaik? Sebetulnya tidak ada yang salah untuk memantaskan diri untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Allah SWT berfirman, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Mereka yang dituduh itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka yang menuduh itu. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia surga.” QS An Nur 26 BACA JUGA Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Utangnya Luruskan niat memantaskan dirimu agar proses nya tak sia-sia di hadapan Allah SWT. Coba kamu perhatikan ikhtiar yang kamu lakukan dalam proses memantaskan diri apakah sesuatu yang ingin kamu capai demi penilaian manusia. Jika demikian maka bersiaplah untuk kecewa. Jika kamu memantaskan diri dengan tujuan mendapat penilaian atau pujian dari manusia, berhati-hatilah kamu menjadi orang yang “tidak pantas” untuk seseorang dengan apa adanya dirimu. Hal itu dikarenakan kamu menjadi seseorang yang disibukkan untuk mencapai standar orang lain. Simpelnya, kamu memantaskan diri untuk orang lain, dengan menuntut lebih atas dirimu. Melakukan banyak perubahan hanya demi mendapatkan penilaian orang lain. Mengabaikan potensi yang sesungguhnya ada pada dirimu demi mendapatkan cinta dari manusia, menjadi sosok manusia yang bukan dirimu. Sungguh akan melelahkan ketika kamu beruaha menggapai penghargaan dari orang lain, sedangkan kamu belum menghargai dan mencintai dirimu sendiri. Ketahuilah wahai saudariku, ketika kamu mencintai dirimu sendiri, kamupun akan mudah dicintai orang lain. Fokus saja terhadap kualitas diri yang akan kamu persembahkan untuk Allah. Jodoh itu sesuai cerminan diri, takperlu repot berpura-pura semuanya tampak sempurna. Terlebih jika berharapa pujian dari orang lain, berharap realita sesuai dengan keinginanmu. Hingga niatmu memantaskan diri hanya sebatas untuk manusia. Percayalah kebaikan itu hadir dari hati, ketulusan akan menyebar pada sekelilingmu. Fokuslah pada apa yang layak kamu berikan pada Allah SWT. Meningkatkan kualitas ibadah, mengembangkan potensi diri, mendewasakan mental, memperkaya wawasan, dan memberikan kontribusi terbaik dalam berkarya, adalah banyak hal dari proses memantaskan diri yang wajib kamu bangun. BACA JUGABolehkah Muslimah pakai Make Up? Niatkan dan persembahkan segalanya karena Allah semata, sebagai penunaian tugas sebagai hambaNya yang berkewajiban menanamkan manfaat terhadap diri sendiri maupun terhadap sekitarmu. Pantaskan diri untuk Allah, bukan untuk jodoh. Cukuplah hadirkan keyakinan padaNya, bahwa jodoh yang kelak Allah hadirkan, akan sebanding dengan kualitas dirimu. Insyaa Allah. []
Memantaskan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT terbuka lebar bagi siapa saja yang menghendakinya. Proses memantaskan diri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu terdapat hal-hal yang harus diperjuangkan dan butuh waktu dalam mengambil keputusan. Inilah yang menjadi tema dalam Inspiring Talkshow yang juga menjadi salah satu rangkaian acara Wonderful Muharram Fest. Acara yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab UII bekerjasama dengan Big Bang Center for Medical Islamic Activities ini mengangkat topik “Memantaskan Diri tak Semudah Bermimpi” dengan menghadirkan pembicara Anandito Dwis dan Anisa Rahma. Keduanya merupakan public figure yang digemari oleh masyarakat luas khususnya para remaja. Kehadiran mereka menarik minat para mahasiswa, sehingga Masjid Ulil Albab tempat terselenggaranya Talkshow pada Hari Sabtu 21/9 sangat ramai dipenuhi jamaah. Kedua pasangan itu bertutur tentang proses hijrah yang mereka lalui. Dito, sapaaan akrab suami dari Anisa ini menyampaikan tentu ada masa kenakalan pada setiap orang saat remaja. Memilih teman bergaul sangatlah penting, sebab lingkungan dapat menjadi faktor pembentuk karakter seseorang. Di masa kuliahnya, Dito mencoba untuk bergaul dengan teman-teman yang dapat mendukung proses pemantasan dirinya. “Seseorang dapat dilihat agamanya dengan melihat agama teman-temanya,” ucap Dito. Berbeda dengan kisah hijrah yang dialami oleh Anisa. Panggilan untuk berhijrah ia alami ketika masih dalam dunia hiburan. Keputusan untuk berhijrah menggunakan hijab ia tempuh dengan berfikir matang. Ketika itu, terbersit dalam dirinya rasa takut kehilangan pekerjaan dan popularitasnya akan menurun setelah berhijrah. Namun, Anisa membulatkan tekat untuk tetap berhijrah. Anisa menuturkan bahwa hal terberat dalam menjalankan hijrah adalah istiqomah. Maka dari itu mengikuti kegiatan kajian merupakan salah satu langkah untuk menjaga keistiqomahannya, karena dengan begitu lingkungan akan mendukung proses berhijrah. Anisa juga menambahkan, ketika niat diluruskan hanya karena Allah maka rezeki akan dimudahkan oleh- Nya. Kisah keduanya menjadi inspirasi bagi jamaah yang didominasi oleh para mahasiswa. Hijrah yang dijalani keduanya menjadi jalan atas pertemuan mereka. Keduanya juga bercerita tentang kisah cinta mereka hingga menjadi pasangan suami istri. Memantaskan diri ke hal yang baik akan menarik hal-hal baik lainnya termasuk urusan jodoh, begitulah pesan yang tersirat dalam kisah yang mereka tuturkan. NR/ESP
“Memantaskan Diri”Jangan sampai memantaskan diri untuk makhluk-Nya, sementara kita lupa kematian adalah hal yang jauh lebih pasti daripada kedatangan berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya maka yang kita tuju adalah keduanya. Ketika kita berhijrah untuk lelaki atau perempuan yang ingin dinikahi, kita hanya mendapatkan الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907Ibnul Aththor menjelaskan maksud penyebutan wanita tersebut setelah kalimat hijrah karena dunia ada dua makna1- Dilihat dari sebab disebutkannya hadits ini, yaitu ada seseorang yang berhijrah karena seorang wanita yang ingin dia nikahi. Wanita tersebut bernama Ummu Qois. Maka laki-laki yang berhijrah di sini disebut Muhajir Ummu Qois, yaitu orang yang berhijrah karena Ummu Penyebutan wanita adalah sesuatu yang khusus dari dunia yang umum yang disebut lebih dulu. Ini menunjukkan peringatan keras bagi yang niatannya keliru hanya untuk mengejar wanita saat sebab itu, hindarkan eksploitasi kalimat “memperbaiki diri untuk mendapatkan pasangan atau juga untuk seseorang”, memperbaiki diri itu untuk memantaskan diri di hadapan Allah, memantaskan diri agar pantas dicintai ikhtiar kita dalam memantaskan diri hanya agar dapat pasangan, ikhtiar kita terbatas, hanya untuk makhluk-Nya saja. Dan kita hanya akan mendapatkan apa yang kita niatkan. Namun jika ikhtiar memantaskan diri kita karena Allah, ikhtiar kita tidak akan mengenal batas, dan balasannya pun beda jangan salah niat, amalan baik seperti hijrah, janganlah diniatkan semata-mata untuk mengejar dunia dan terkhusus lelaki/wanita. Karena diterimanya amalan shaleh adalah jika niatannya ikhlas mengharap wajah Allah tidak untuk selain-Nya, dan disebut baik jika sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Allahu a'
memantaskan diri dalam islam