NamunMontgomery Watt memiliki pendapat tersendiri. Dalam dua bukunya Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali (1963) dan The Faith and Practice of al-Ghazali (1967), dia berkata, orang kedua setelah Nabi Muhammad yang paling memberi pengaruh dalam keberislaman adalah Imam al-Ghazali. Di Indonesia, jejak pemikiran beliau begitu terasa.
Guruulama Nusantara itu mengarang banyak buku di berbagai bidang, seperti tauhid, fikih, tasawuf, sejarah, politik, nahwu, dan balaghah. Al-Asy`ari dalam hal tauhid, dan Al-Ghazali dalam tasawuf. Tiga acuan khusus muslim Sunni Nusantara itu adalah tokoh-tokoh moderat. Fikih Syafi'i adalah penengah antara fikih rasional Hanafi dan fikih
Didalam kitab Ihya c Ulumuddin, al-Ghazali telah menghuraikan hakikat tauhid dan membahagikan tauhid kepada empat peringkat (Taftazani 1996): a) Mengucap la ilaha illallah den gan lidahnya
Scribdadalah situs bacaan dan penerbitan sosial terbesar di dunia. Pandangan Imam Al-Ghazali. Buka menu navigasi. Tutup saran Cari Cari. id Change Language Ubah Bahasa. close menu Bahasa. English; español; português; Deutsch; français;
Berlanjutkepada Ahmad Bafaqih Ba'lawi demi mengkritisi kajian Jauharah at-Tauhid buah karya Syaikh Ibrahim al-Laqani dan Minhaj al-Abidin karya Al-Ghazali. Masih di kota loenpia, Semarang-lah, Kitab Masa'il as-Sittin karya Abu al-Abbas Ahmad al-Misri, sebuah depiksi tentang ajaran dasar Islam populer di Jawa sekitar abad ke- 19, dicernanya
11 Siapakah pendiri kerajaan Islam pertama di Nusantara dan apa nama kerajaan tersebut? Jawab : Malik As-Saleh (kerajaan Samudera Pasai) 12. Siapakah pendiri Nahdhatul Ulama (NU) dan pada tahun berapa organisasi tersebut didirikan? Jawab : K. H. Hasyim Al-Asyari (1926) 13. Siapakah Ulama Aceh yang mengarang kitab "Bustanus Salatin"?
6NVw. 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID AgUJcKrvytquAE57ZLB33CQo9kR_LY2rHGuwbSIOoZR8K_QGMFOW2g==
- Imam Al Ghazali mengambil peranan besar dalam perkembangan Islam. Sosok yang mencintai filsafat dan tasawuf ini menularkan pemikiran-pemikirannya ke seluruh sudut dunia Islam. Terlahir pada tahun 1058 atau 450 H di Iran, Imam Al Ghazali memiliki nama lahir Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i. Soal peletakan nama Imam Al Ghazali, hingga kini masih menjadi perdebatan pada ulama nasab. Ada yang mengatakan bahwa penggunaan nama ini berkaitan dengan tempat kelahiran Al Gazhali yaitu di daerah Ghazalah, lagi mengatakan bahwa penyandaran nama ini berkaitan erat dengan keluarganya, khususnya ayah Al Gazhali, yang bekerja menenun atau memintal bulu kambing di daerah Ghazalah. Baca juga Mengenalkan Anak pada Sejarah Islam di Pameran Artefak Nabi Muhammad SAW Mencintai filsafat sedari kecil Melansir dari laman Al Ghazali tumbuh dan besar di lingkungan keluarga miskin. Ayahnya hanyalah seorang pengrajin kain shuf, yaitu kain yang terbuat dari bulu kambing. Al Ghazali sering bercerita tentang kebaikan ayahandanya. Bahwa ayahnya adalah orang miskin yang shalih, yang tidak memakan apapun selain hasil dari pekerjaannya sendiri. Kompasiana Ilustrasi Imam Al Ghazali Dalam kehidupan yang serba terbatas, Al Ghazali mendapatkan pendidikan gratis dari beberapa orang guru. Dari sekolah gratis tersebut, Al Gazhali bisa fasih berbahasa Arab dan juga Parsi. Dari modal kemampuan membaca inilah, Al Ghazali melahap berbagai ilmu yang menarik minat dan perhatiannya. Dari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ilmu filsafat, ilmu fiqih, juga mempelajari empat mazhab hingga ia menguasai keseluruhannya. Al Ghazali sempat menepi ke Jurjan untuk menimba ilmu kepada Imam Abu Nashr Al Isma'ili dan menulis buku At Ta'liqat. Ia juga berguru ilmu fiqih kepada Ahmad ar-Razkani, dan berguru pada Imam Haramain di Naisabur tentang fiqih mazhab Syafi'i dan fiqih khilaf. Baca juga Sejarah Masjid Jami Kebon Jeruk, Saksi Bisu Penyebaran Islam dari Tiongkok Mahaguru di Madrasah An Nidzamiyah Setelah Imam Haramain wafat, Al Ghazali berpindah ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Di sana Al Ghazali sering berdebat dengan banyak ahli ilmu agama dan para ulama, dan selalu bisa memenangkan debat tanpa ada yang menyanggahnya kecerdasannya inilah, Nidzamul Malik langsung mengangkat Al Gazhali menjadi pengajar salah satu madrasahnya yang ada di Baghdad. Tepat di tahun 484 H itu, Al Gazhali resmi hijrah ke Baghdad untuk menjadi pengajar Madrasah An Nidzamiyah. Madrasah ini adalah universitas yang didirikan oleh perdana menteri Baghdad pada tahun 484 H. Selain sebagai pengajar yang setara maha guru, Al Ghazali juga dilantik sebagai Naib Kanselor di sekolah tersebut. Di tahun 489 H, Al Ghazali sempat masuk kota Damaskus beberapa hari dan bahkan diceritakan pernah memasuki Baitul Maqdis dan tinggal beberapa lama di sana. Di masa itulah, Al Ghazali menepi dan menyelesaikan penulisan kitab Ihya Ulumuddin. Selain buku yang paling ternama itu, Al Ghazali juga menyelesaikan penulisan Al Arba'in, Al Qisthas, dan kitab Mahakkun Nadzar. Baca juga 5 Fakta Menarik Tentang Masjid Al-Aqsa Sisa hidup di tanah kelahiran Al Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga rela meninggalkan kehidupan duniawi untuk mengembara mencari ilmu-ilmu baru ke Mekkah, Madinah, Mesir juga Yerusalem selama 10 tahun lamanya. Di akhir hidupnya, Al Ghazali pulang ke tanah kelahirannya dan mendirikan satu madrasah di samping rumahnya. Ia bahkan juga mendirikan asrama yang diperuntukkan untuk orang-orang Shufi. Al Ghazali menikmati hari tuanya dengan membaca Al Qur'an, berkumpul dengan ahli ibadah juga mengajar para penuntut ilmu. Abul Faraj Ibnul Jauzi menceritakan detil dari hari terakhir Al Gazhali dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat. Di kitab itu, Abul Faraj menukil kalimat terakhir saudara Al Ghazali, Ahmad Pada subuh hari Senin saudaraku Abu Hamid berwudhu dan salat kemudian berkata,"Bawa kemari kain kafan saya." Kemudian Al Ghazali mengambil dan mencium kain kafan itu sembari berkata,"Saya patuh dan taat untuk menemui malaikat maut." Al Ghazali lantas meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Dikatakan di kitab tersebut, sebelum langit menguning di tahun 1111 itu, Al Ghazali pergi menghadapi Sang Khalik. Baca juga Faktor Kemunduran Peradaban Islam Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Ibnu Sina banyak memiliki karya tulis. Ada pendapat yang menyatakan bahwa karya tulisnya mencapai dua ratus buku. Sebagian pakar lainnya menyatakan bahwa karya tulisnya sekita seratusan Di antara karya-karya Ibnu Sina Kitab Al ÂSyifa Obat berupa ensklopedi filsafat; kitab AlÂQanun Fi alÂThib Praktek Kedokteran di bidang kedokteran; Kitab alÂNajah Keberhasilan ringkasan dari alÂSyifa dalam hal ketuhanan, logika dan ilmu alam serta karya-karya tulis lainnya. Akhir Ibnu Sina Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas dan kerja keras sehingga suatu hari ia terkena penyakit maag akut yang sudah tidak dapat diobati lagi. Di hari-hari menjelang wafatnya ia selalu memakai pakaian putih, mensedekahkan hartanya kepada fakir miskin, memerdekakan budak serta giat beribadah kepada Allah Swt. Ia wafat pada tahun 428H/1037M di usia 58 tahun. VI. Proses Pembelajaran a. Persiapan 1 Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama. 2 Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. 3 Guru memotivasi peserta didik dengan kegiatan yang ringan, seperti cerita motivasi. 4 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. 5 Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif tentang materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina 6 Beberapa alternatif media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca atau bisa juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya. 7 Metode yang digunakan adalah gallery work atau pameran berjalan. Metode ini bertujuan membangun kerjasama kelompok cooperative learning, siswa akan saling memberikan koreksi dan apresiasu dalam belajar. Metode ini dapat dikolaborasikan dengan metode diskusi. b. Pelaksanaan 1 Guru meminta siswa untuk mengamati gambar yang ada di kolom “Mari mengamati”. 2 Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hasil pengamatannya tentang gambar tersebut. 3 Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap hasil pencermatan pengamatan siswa. 4 Guru meminta kembali siswa untuk mengamati gambar yang ada yang ada di kolom “Mari Mengamati”. 5 Siswa mengemukakan pendapatnya tentang gambar tersebut. 6 Guru memberikan penjelaskan tambahan kembali dan penguatan yang dikemukakan siswa tentang isi gambar tersebut. 7 Siswa menyimak penjelasan guru atau mencermati gambar atau tayangan visual/film tentang keteladanan sifat alÂGhazali dan Ibnu Sina, secara klasikal atau individual. 8 Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan keadaan kelas. 9 Guru memberikan kertas plano atau flip cart kepada masing-masing kelompok. 10 Guru menentukan tema atau topik pembahasan bagi masing-masing kelompok. 11 Siswa mendiskusikan tema atau topik yang sudah ditentukan 12 Siswa menempel hasil kerja kelompoknya di media tempel dinding 13 Masing-masing kelompok berputar mengamati hasil kerja kelompok lain 14 Salah satu wakil kelompok menjelaskan setiap apa yang ditanyakan oleh kelompok lain. 15 Guru dan siswa melakukan koreksi bersama-sama 16 Guru mengklarifikasi dan menyimpulkan materi pembelajaran. 17 Guru membimbing peserta didik untuk membaca kisah “kegigihan Ibnu Sina belajar filsafat”. 18 Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hikmah dari kisah “kegigihan Ibnu Sina belajar filsafat”. 19 Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah tersebut. 20 Guru dan siswa menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai yang terdapat dalam buku teks siswa pada kolom rangkuman. 21 Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru a. meminta peserta didik untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian. b. membimbing peserta didik untuk mengamati dirinya sendiri tentang perilaku-perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina di lingkungannya Kolom tugas. VI I. Penilaian Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik dalam a. Pengamatan diskusi. No. Nama siswa Aspek yang dinilai Skor Maks. Nilai Ketuntasan Tindak Lanjut 1 2 3 T TT R P 1 Aspek dan rubrik penilaian 1. Kejelasan dan kedalaman informasi. a. Jika kelompok tersebut dapat memberikan kejelasan dan kedalaman informasi lengkap dan sempurna mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 30. b. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi lengkap dan kurang sempurna mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 20. c. Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan kedalaman informasi kurang lengkap mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 10. 2. Keaktifan dalam diskusi. a. Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 30. b. Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi mengenai biografi al- Ghazali dan Ibnu Sina, skor 20. c. Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 10. 3. Kejelasan dan kerapian presentasi. a. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan rapi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 40. b. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan jelas dan rapi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor30. c. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan sangat jelas dan kurang rapi mengenai biografi al-Ghazali dan Ibnu Sina, skor 20. d. Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan dengan kurang jelas dan b. Kolom “Ayo Berlatih” 1 Kolom pilihan ganda dan uraian. a Pilihan ganda jumlah jawaban benar x 1 maksimal 10 x1 = 10. b Uraian Guru meminta siswa memberi tanda silang X pada huruf a, b, c, d atau e, pada jawaban yang paling benar ! 1. Imam al-Ghazali dilahirkan di kota a. Yerusalem b. Thus c. Taheran d. Cairo e. Palestina 2. Siapakah guru pertama al-Ghazali di bidang tauhid… a. Al Juwaini b. Washil bin al Atha c. Abu Hasan al Asy’ari d. Ali al Juba’i e. Qadhi Abdul Jabbar 3. Ayah al-Ghazali adalah seorang tokoh… a. hadis b. fikih c. ushul Fikih d. tasawuf e. bahasa Arab 4. Apa yang dilakukan oleh al-Ghazali saat pindah dari Baghdad menuju Damaskus… a. menuntut ilmu b. mencari nafkah c. menjadi menteri d. melakukan I’tikaf 5. Karya al-Ghazali yang paling monumental… a. Ihya Ulumuddin b. Mi’yar al ’ilmi c. Tahafut al Falasifah d. Arba’in fi Ushuluddin e. Qowaid alÂ’Aqa’id 6. Ibnu Sina dilahirkan di kawasan… a. Persia b. Bukhara c. Cairo d. Fes e. Khourtom 7. Di usia berapakah Ibnu Sina telah menghapal al Qur’an… a. 7 tahun b. 9 tahun c. 10 tahun d. 16 tahun e. 17 tahun 8. Di usia 16 tahun Ibnu Sina sudah menjadi… a. guru b. ulama c. filosof d. psikiater e. dokter 9. Seorang penguasa Bukhara yang disembuhkan oleh Ibnu Sina bernama... a. Jengis Khan b. Nuh ibn Manshur c. Yazid bin Muawiyah d. Muhammad II e. Musa bin Nushair 10. Karya Ibnu Sina yang berupa ensklopedi di bidang kedokteran. a. Kitab alÂNajah b. AlÂQanun Fi alÂThib c. AlÂSyifa d. AlÂDawa’ e. AlÂDa’ b Uraian Siswa menjawab pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat! 1. Jelaskan secara singkat sosok ayah al-Ghazali! 2. Jelaskan petualangan al-Ghazali dalam menuntut ilmu ! 3. Apa yang dilakukan oleh al-Ghazali di Nidzamiyah? 4. Apakah judul karya al-Ghazali yang menolak filsafat? 5. Di mana dan kapan al-Ghazali wafat ! 6. Sebutkan nama lengkap Ibnu Sina ? 7. Gelar apakah yang diberikan kepada Ibnu Sina? 8. Penyakit apa yang diderita Ibnu Sina sebelum wafat ! 9. Apakah Julukan untuk Ibnu Sina di barat ? 10. Di usia berapa dan kapan Ibnu Sina wafat ? Rubrik Penilaian No. Soal Rubrik penilaian Skor 1 a. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 4. c. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al-Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 6 2 a. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup ayah al- Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup ayah al- Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 5 c. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al- Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 3 a. Jika siswa dapat menjelaskan guru-guru al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menjelaskan guru-guru al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 3 c. Jika siswa dapat menjelaskan perjalanan hidup al- Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 6 4 a. Jika siswa dapat menjelaskan ilmu pengetahuan yang dikuasai al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menjelaskan ilmu pengetahuan yang dikuasai al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 3 6 5 a. Jika siswa dapat menyebutkan karya-karya al-Ghazali dengan lengkap dan sempurna, skor 6. b. Jika siswa dapat menyebutkan karya-karya al-Ghazali dengan lengkap dan kurang sempurna, skor 3 c. Jika siswa dapat menyebutkan karya-karya al-Ghazali dengan tidak lengkap, skor 2. 6 6 a. Jika siswa dapat menyebutkan nama lengkap Ibnu Sina dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menyebutkan nama lengkap Ibnu Sina dengan tidak lengkap , skor 5 10 7 a. Jika siswa dapat menjelaskan biografi Ibnu Sina dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menjelaskan biografi Ibnu Sina dengan tidak lengkap , skor 5 10 8 a. Jika siswa dapat menceritakan keberadaan Ibnu Sina di pasar loak dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menceritakan keberadaan Ibnu Sina di pasar loak dengan tidak lengkap , skor 5 10 9 a. Jika siswa dapat menceritakan akhir kehidupan Ibnu Sina dengan lengkap dan sempurna, skor 10 b. Jika siswa dapat menceritakan akhir kehidupan Ibnu Sina dengan tidak lengkap , skor 5 10 Nilai Jumlah skor yang diperolehpilihan ganda dan Isian x 100 90 3 Tugas. Skor penilaian sebagai berikut. a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugas tepat pada waktu dan perilaku diamati serta alasannya benar, nilai 100. b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90. c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80. Catatan Selain diberikan tugas sesuai dengan yang ada di buku siswa, peserta didik juga diberikan tugas tidak terstruktur berupa portofolio. Mengetahui, ...,...20... Guru Agama Islam Orang Tua/Wali Siswa ... ... • Setiap karya siswa sesuai kompetensi dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu berkas tempat untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0-10 atau 0-100. Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik, semakin tinggi skor yang diberikan. Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai. Nilai akhir yang diperoleh oleh peserta didik adalah sebagai berikut. a. Rata-rata dari jumlah nilai pada kolom 1 kolom centang dan menyebutkan contoh ketentuan ¡alat berjama’ah dan kolom diskusi x 30 %. b. Jumlah nilai rata- rata pada kolom “Ayo berlatih” Pilihan ganda /uraian dan tugas x 30 %. c. Jumlah nilai pada kolom praktik ¡alat berjamaah x 40%. Nilai akhir = nilai a + nilai b + nilai c Kunci jawaban Penerapan Kebijakan guru. II. Pilihan ganda 1. B 2. A 3. D 4. D 5. A 6. B 7. C 8. E 9. B 10. C III. Uraian 1. Ayahnya seorang sufi yang sangat wara’ yang hanya makan dari penghasilan yangdihasilkan oleh jerih payahnya 2. Pendidikan awal Al-Ghazali di Thus lalu ia melanjutkan belajar ke Jurjan di bidang hukum kepada Abu Nasr al Ismaili1015-1085 M. Pada usia 20 tahun ia pergi ke Nisabur untuk mendalami ilmu fikih dan tauhid kepada al Juwaini1028-1085 yang kemudian menjadi asistennya. Selain belajar fikih dan tauhid. Ia juga melakukan praktek tasawuf dibimbing oleh Abu Ali al-Farmadzi w. 1084 yang menjdi murid Imam Qusyairi 986-1072 M. Pada tahun 1091 M ia diundang oelh Nidzam al-Mulk 1063-1092 M untuk menjadi guru besar di Nidzamiah, Baghdad Dari sinilah kemudian ia mulai dikenal dan memiliki posisi yang tinggi. 3. Menjadi guru besar 4. Tahafut al Falasifah 5. Ia wafat pada tahun 505 H/1111 M di Thus dalam usia lima puluh lima tahun. 6. Nama lengkapnya Abu Ali al Husayn ibn Abdullah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina 7. Bergelar “AlÂSyaikh AlÂRa’is”. 8. Ia terkena penyakit maag akut yang sudah tidak dapat diobati lagi. 9. Avicena IV. Tugas Kebijakan guru. Saran Guru harus kreatif mengembangkan soal berikut rubrik dan penskorannya sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan mengikuti langkah-langkah yang ada. Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan menelaani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina. Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan. IX. Remedial Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang “Meneladani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu sina”. Guru akan melakukan penilaian kembali lihat point 7 dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan contoh pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran 30 menit setelah jam pelajaran selesai. X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung baik langsung, maupun memalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya. BAB VI AKHLAK TERPUJI I. Kompetensi Inti KI Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif, dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam, serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Mencoba, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan factual, konseptual, prosedural dan metagoknitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan procedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Mengolah, menalar, menyaji dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. II. Kompetensi Dasar KD Menghayati pentingnya nilai-nilai positif pada kompetisi dalam kebaikan fastabiqul Khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. Membiasakan berperilaku dengan semangat berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. Menjelaskan pengertian dan pentingnya perilaku semangat berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat. Optimis, dinamis, inovatif, dan kreatif. Menunjukkan contoh perilaku berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif, dan kreatif. III. Tujuan Pembelajaran Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan, diharapkan 1. Siswa dapat menjelaskan pengertian berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 2. Siswa dapat menjelaskan pentingnya berperilaku kompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 3. Siswa dapat menunjukkan contoh-contoh perilaku bekompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. IV. Indikator Pencapaian 1. Menjelaskan pengertian berkompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 2. Menjelaskan pentingnya berperilaku kompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif 3. Menunjukkan contoh-contoh perilaku bekompetisi dalam kebaikan fastabiqul khairat, optimis, dinamis, inovatif dan kreatif. V. Materi Pokok
- Salah satu pemikir besar dalam dunia Islam adalah Al-Ghazali atau yang dikenal dengan Imam Ghazali. Imam Ghazali adalah seorang akademisi serta ahli tasawuf yang telah melahirkan karya-karya fenomenal. Salah satu karya terkenal dari Imam Ghazali berjudul Ihya Ulumuddin Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama.Semasa muda, Al-Ghazali merupakan seorang pemuda yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia pendai dalam ilmu tafsir Al Quran, hadis, ilmu kalam, dan filsafat. Beberapa sejarawan Muslim menganggapnya sebagai seorang Mujaddid, yakni seorang pembaru iman yang muncul sekali setiap abad untuk memulihkan iman umat Islam. Selain itu, Imam Al-Ghazali adalah sosok yang terkenal sebagai Bapak Tasawuf Modern. Baca juga Jabir bin Hayyan, Bapak Ilmu Kimia Modern Masa kecil Al-Ghazali Al-Ghazali lahir di Thus, Iran, pada 450 H atau 1058 dengan nama asli Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thus. Sejak kecil, ia sudah menjadi anak yatim karena ditinggal ayahnya. Namun, sebelum meninggal, ayahnya menitipkannya ke salah satu sahabatnya untuk mengurus pendidikannya. Al-Ghazali pun cukup beruntung karena berada di wilayah yang ditinggali para penyair, penulis, dan ahli agama Islam. Pendidikan Al-Ghazali Al-Ghazali mendapatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, di Kota Thus. Ia belajar ilmu agama bersama seorang guru bernama Ahmad bin Muhammad Razkafi. Al-Ghazali kecil telah pandai berbahasa Arab dan Parsi. Ia kemudian belajar mengenai ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ushul fikih, filsafat, dan mahzab-mahzab besar Islam. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di bidang ilmu fikih di Jarajan. Guru Imam Al-Ghazali saat itu adalah Imam Harmaim di Naisabur. Baca juga Imam Al-Qurthubi, Ahli Tafsir Terkenal dari Andalusia Selain itu, Al-Ghazali juga mengembara ke berbagai wilayah untuk menuntut ilmu, seperti ke Mekkah, Madinah, Mesir, dan Yerusalem. Berkat kegigihannya dalam belajar, pada 484 H atau 1092, Al-Ghazali diangkat menjadi rektor Madrasah Nizhamiyah di Bagdad. Tasawuf Imam Al-Ghazali Sebagai ahli dalam bidang tasawuf, yang kemudian dijuluki sebagai Bapak Tasawuf Modern, Imam Al-Ghazali memiliki beberapa inti ajaran, sebagai berikut. At-Thariq Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa seorang muslim yang ingin mendapatkan jalan Tasawuf harus melalui lima jenjang, yakni taubat, sabar, kefakiran, zuhud, dan tawakal. Baca juga Ilmuwan Muslim pada Masa Dinasti Ayyubiyah dan BidangnyaMakrifat Setelah lima tingkatan At-Thariq, Imam Al-Ghazali menganjurkan untuk memahami makrifat atau memahami pengetahuan terkait ketuhanan tanpa keraguan sedikit pun. Imam Al-Ghazali menekankan setiap umat Islam mengetahui pengetahuan tentang Allah SWT tanpa meragukannya. Ia juga berpendapat bahwa untuk mencapai pemahaman terkait Allah SWT, setiap umat Islam harusnya memiliki hati yang bersih atau suci. Tingkatan manusia Dalam ajaran tasawuf Imam Al-Ghazali, terdapat tiga tingkatan dalam manusia, yakni orang awam memiliki pemikiran sederhana, kaum pilihan atau golongan Khawas berpikir tajam dan mendalam, dan kaum ahli debat mampu mempersuasi orang dan mematahkan argumen. Kebahagiaan Menurut Imam Al-Ghazali, kebahagiaan menjadi tujuan akhir dalam perkenalannya dengan Allah SWT. Dalam konsep tasawuf Imam Al-Ghazali, kebahagiaan itu didapatkan melalui ilmu dan amal. Dengan memahami suatu konsep dan mempraktikkannya, maka manusia akan menemukan kebahagiaan. Baca juga Jamaluddin al-Afghani Biografi, Pemikiran, dan Ide Pembaharuan Akhir hayat Imam Al-Ghazali Imam Al-Ghazali merupakan seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan sehingga ia rela meninggalkan kehidupan duniawinya. Selama hidupnya, ia suka mengembara untuk mencari ilmu. Pada masa senjanya, Imam Al-Ghazali pulang ke Thus dan mendirikan sekolah di samping rumahnya. Ia juga membangun asrama untuk murid-muridnya yang belajar di sekolahnya. Al-Ghazali menikmati hari tuanya dengan membaca Al Quran, berkumpul dengan ahli ibadah, dan mengajar para penuntut ilmu. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada tahun 1111 ketika berusia 58 tahun. Baca juga Siapakah Imam Nawawi? Karya Imam Al-Ghazali Imam Al-Ghazali yang menjadi ilmuwan dan ahli tasawuf memiliki beberapa karya dalam bentuk kitab. Berikut adalah beberapa karya Imam Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin Al-Munqidh min al-Dalal Minhaj al-'Abidin Al-Munqidh min al-Dalal Al-Maqsad al-Asna fi Sharah Asma' Allahu al-Husna Faysal al-Tafriqa bayn al-Islam Wal-Zandaqa Maqasid al Falasifa Tahafut al-Falasifa Al-Qistas al-Mustaqim Referensi Jauhari, Wildan. 2018. Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali. Jakarta Penerbit Rumah Fiqih. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Suatu malam disaat orang sedang terlelap, Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat itu masih muda dan sedang berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabbal Qubis Makkah sedang membersihkan kamar mandi Gurunya menggunakan kedua tangannya tanpa merasa jijik dan melakukan dengan penuh ikhlas. Di saat Beliau melakukan tersebut, tiba-tiba Guru Syekh Sulaiman Zuhdi lewat dan berkata, “Kelak tanganmu akan di cium raja-raja dunia”. Ucapan Gurunya itu dikemudian hari terbukti dengan banyak raja yang menjadi murid Beliau dan mencium tangan Beliau salah satunya adalah Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja di Kerajaan Langkat, Sumatera Utara. Kisah berguru dalam ilmu hakikat mempunyai keunikan tersendiri, seperti kisah Sunan Kalijaga yang menjaga tongkat Gurunya dalam waktu lama, dengan itu Beliau lulus menjadi seorang murid. Berikut kisah Ulama Besar Imam Al-Ghazali memperoleh pencerahan bathin bertemu dengan pembimbing rohaninya, kisah ini saya di kutip dari Buku Tuntunan Mencapai Hidayah Ilahi hal. 177, 178. Karya Imam Al Ghazali dari web Imam Ghazali seorang Ulama besar dalam sejarah Islam, hujjatul islam yang banyak hafal hadist Nabi SAW. Beliau dikenal pula sebagai ahli dalam filsafat dan tasawuf yang banyak mengarang kitab-kitab. Suatu ketika Imam Al Ghazali menjadi imam disebuah masjid . Tetapi saudaranya yang bernama Ahmad tidak mau berjamaah bersama Imam Al Ghazali lalu berkata kepadanya ibunya “Wahai ibu, perintahkan saudaraku Ahmad agar shalat mengikutiku, supaya orang-orang tidak menuduhku selalu bersikap jelek terhadapnya“. Ibu Al Ghazali lalu memerintahkan puteranya Ahmad agar shalat makmum kepada saudaranya Al Ghazali. Ahmad pun melaksanakan perintah sang ibu, shalat bermakmum kepada Al ditengah-tengah shalat, Ahmad melihat darah membasah perut Imam. Tentu saja Ahmad memisahkan diri. Seusai shalat Imam Al Ghazali bertanya kepada Ahmad, saudaranya itu “Mengapa engkau memisahkan diri muffaragah dalam shalat yang saya imami ? “. Saudaranya menjawab “Aku memisahkan diri, karena aku melihat perutmu berlumuran darah “. Mendengar jawaban saudaranya itu, Imam Ali Ghazali mengakui, hal itu mungkin karena dia ketika shalat hatinya sedang mengangan-angan masalah fiqih yang berhubungan haid seorang wanita yang mutahayyirah. Al Ghazali lalu bertanya kepada saudara “Dari manakah engkau belajar ilmu pengetahuan seperti itu ?” Saudaranya menjawab, “Aku belajar Ilmu kepada Syekh Al Utaqy AL-Khurazy yaitu seorang tukang jahit sandal-sandal bekas tukang sol sepatu . ” Al Ghazali lalu pergi kepadanya. Setelah berjumpa, Ia berkata kepada Syekh Al khurazy “Saya ingin belajar kepada Tuan “. Syekh itu berkata Mungkin saja engkau tidak kuat menuruti perintah-perintahku “. Al Ghazali menjawab “Insya Allah, saya kuat “. Syekh Al Khurazy berkata “Bersihkanlah lantai ini “. Al Ghazali kemudian hendak dengan sapu. Tetapi Syekh itu berkata “Sapulah bersihkanlah dengan tanganmu“. Al Ghazali menyapunya lantai dengan tangannya, kemudian dia melihat kotoran yang banyak dan bermaksud menghindari kotoran itu. Namun Syekh berkata “Bersihkan pula kotoran itu dengan tanganmu“. Al Ghazali lalu bersiap membesihkan dengan menyisingkan pakaiannya. Melihat keadaan yang demikian itu Syekh berkata “Nah bersìhkan kotoran itu dengan pakaian seperti itu” . Al Ghazali menuruti perintah Syekh Al Khurazy dengan ridha dan tulus. Namun ketika Al Ghazali hendak akan mulai melaksanakan perintah Syekh tersebut, Syekh langsung mencegahnya dan memerintahkan agar pulang. Al Ghazali pulang dan setibanya di rumah beliau merasakan mendapat ilmu pengetahuan luar biasa. Dan Allah telah memberikan Ilmu Laduni atau ilmu Kasyaf yang diperoleh dari tasawuf atau kebersihan qalbu kepadanya.
siapakah guru pertama al ghazali di bidang tauhid